Sekolah Rakyat dan Transformasi Kesehatan serta Prestasi Siswa

oleh -3 Dilihat
oleh
banner 468x60

Oleh : Abdul Razak)*

Program Sekolah Rakyat yang dijalankan pemerintah mulai menunjukkan dampak nyata dalam memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas hidup anak-anak dari keluarga rentan. Tidak hanya menghadirkan kesempatan belajar, program tersebut juga membawa perubahan pada kesehatan, karakter, literasi digital, hingga prestasi siswa di berbagai daerah.

banner 336x280

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memaparkan perkembangan Sekolah Rakyat dalam Konferensi Pers Pemerintah di Auditorium Bakom RI. Kegiatan itu menjadi bagian dari penyampaian capaian program lintas sektor pemerintah, termasuk Cek Kesehatan Gratis (CKG) di sekolah, penanganan tuberkulosis, serta penguatan akses pendidikan bagi kelompok rentan.

Dalam paparannya, Gus Ipul menegaskan Sekolah Rakyat merupakan upaya pemerintah memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Program tersebut ditujukan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera yang selama ini sulit memperoleh akses pendidikan layak akibat keterbatasan ekonomi maupun kondisi sosial yang rentan.

Menurutnya, negara tidak boleh menyerah terhadap keadaan yang membuat sebagian anak kehilangan kesempatan belajar. Kehadiran Sekolah Rakyat menjadi bentuk nyata tanggung jawab negara dalam memberikan perlindungan dan masa depan yang lebih baik bagi anak-anak dari keluarga miskin.

Program ini dilaksanakan mengacu pada amanat Pasal 34 Undang-Undang Dasar 1945 mengenai kewajiban negara memelihara fakir miskin dan anak terlantar. Berdasarkan data pemerintah, mayoritas siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga pada desil 1 dan desil 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sekitar 60 persen orang tua bekerja sebagai buruh atau tenaga harian lepas, sedangkan 67 persen memiliki penghasilan di bawah Rp1 juta per bulan. Sebagian besar keluarga juga memiliki tanggungan lebih dari empat orang.

Kondisi tersebut membuat banyak anak hidup dalam situasi serba terbatas. Bahkan terdapat siswa yang sebelumnya belum pernah bersekolah maupun mengalami putus sekolah akibat tekanan ekonomi keluarga. Karena itu, proses penerimaan siswa dilakukan secara aktif melalui penjangkauan berbasis data, verifikasi lapangan, hingga dialog langsung dengan orang tua sebelum ditetapkan oleh pemerintah daerah.

Untuk tahun ajaran 2026, pemerintah menargetkan penerimaan 32.640 siswa baru. Saat ini Sekolah Rakyat telah beroperasi di 166 titik rintisan yang tersebar di 34 provinsi dan 131 kabupaten/kota dengan jumlah siswa mencapai lebih dari 14.936 orang.

Perubahan signifikan mulai terlihat setelah program berjalan lebih dari sembilan bulan. Gus Ipul menyebut perkembangan siswa tidak hanya tampak dari sisi akademik, tetapi juga kesehatan fisik dan mental.

Banyak siswa yang sebelumnya mengalami kurang gizi, anemia, serta kebugaran rendah kini menunjukkan kondisi yang jauh lebih baik. Berat badan dan tinggi badan meningkat, tubuh menjadi lebih sehat, serta kemampuan berkonsentrasi saat belajar ikut mengalami peningkatan. Menurut Gus Ipul, kesehatan menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas pendidikan karena anak yang sehat memiliki peluang belajar lebih optimal.

Selain kesehatan fisik, perubahan perilaku siswa juga terlihat cukup menonjol. Anak-anak menjadi lebih disiplin, lebih percaya diri, dan lebih mandiri dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan testimoni orang tua, siswa kini lebih rajin beribadah, terbiasa bangun pagi, mulai membantu keluarga, serta tidak lagi terlalu bergantung pada gawai.

Gus Ipul menilai Sekolah Rakyat tidak hanya mengubah kehidupan seorang anak, tetapi juga memulihkan harapan dalam sebuah keluarga. Program tersebut dinilai mampu membangun optimisme baru bagi masyarakat miskin untuk keluar dari lingkaran kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas.

Dari sisi akademik, hasil program mulai terlihat nyata. Pada tahun 2026, Sekolah Rakyat akan meluluskan 453 siswa pertama dari jenjang SD, SMP, dan SMA. Para lulusan diarahkan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja sebagai tenaga terampil sesuai minat dan potensi masing-masing.

Prestasi siswa pun mulai bermunculan di berbagai tingkatan. Salah satu siswa berhasil meraih Juara 2 dalam ajang Senkaido Open International Karate Championship Series 7 Tahun 2025. Selain itu, sebanyak 162 siswa mencatat prestasi tingkat nasional, 87 siswa tingkat provinsi, dan 75 siswa tingkat kabupaten/kota. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa anak-anak dari keluarga rentan mampu bersaing apabila mendapatkan akses pendidikan dan pendampingan yang tepat.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Mohammad Qodari menekankan pentingnya intervensi kesehatan sejak dini melalui sekolah. Menurutnya, sekolah menjadi ruang strategis bagi negara untuk memastikan seluruh anak memperoleh layanan dasar yang sama sehingga masalah kesehatan dapat dideteksi dan ditangani lebih cepat.

Penguatan kualitas siswa juga dilakukan melalui literasi digital. Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur menggelar program Cerdas Digital (Cerdig) melalui pelatihan Coding for Kids bagi siswa Sekolah Rakyat secara daring.

Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, mengatakan perkembangan teknologi digital harus diimbangi peningkatan literasi digital bagi pelajar. Melalui program tersebut, siswa diajak memanfaatkan teknologi secara bijak, produktif, dan bertanggung jawab.

Sementara itu, Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi Jawa Timur, Mochamad Ismanu Roziqi, menjelaskan pembelajaran coding menggunakan Scratch dapat melatih kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa melalui pembuatan cerita interaktif, animasi, maupun gim sederhana.

Di sisi lain, pemerintah terus mempercepat pembangunan fasilitas Sekolah Rakyat di berbagai daerah. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo meninjau pembangunan Sekolah Rakyat di Aceh dan Sumatra Barat guna memastikan proyek berjalan sesuai target.

Melalui penguatan pendidikan, kesehatan, literasi digital, dan pembangunan infrastruktur, Sekolah Rakyat kini menjadi simbol hadirnya negara bagi masyarakat rentan. Program tersebut diharapkan mampu mencetak generasi sehat, berprestasi, serta memiliki kesempatan lebih besar untuk keluar dari kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas.

)* Analis Kebijakan Publik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.