Jakarta – Pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor dan daerah dalam menghadapi dinamika global yang kian kompleks, mulai dari tekanan inflasi, fluktuasi harga energi, hingga ketidakpastian geopolitik. Langkah ini dinilai penting guna memastikan stabilitas ekonomi dan sosial nasional tetap terjaga, sekaligus menjaga daya beli masyarakat di tengah tantangan global yang belum sepenuhnya mereda.
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah pusat menegaskan bahwa peran kepala daerah menjadi kunci dalam menerjemahkan kebijakan strategis nasional ke dalam langkah konkret di lapangan. Sinergi antara pusat dan daerah diyakini mampu meminimalkan dampak eksternal, termasuk potensi kenaikan harga kebutuhan pokok akibat gejolak global.
Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian menegaskan pentingnya kewaspadaan dan langkah antisipatif dari seluruh kepala daerah dalam merespons situasi global yang berpotensi memicu inflasi. Ia menilai, kesiapan pemerintah daerah akan sangat menentukan keberhasilan menjaga stabilitas di tingkat lokal.
“Pemerintah daerah harus mampu membaca situasi global yang berdampak pada inflasi di dalam negeri. Saya minta kepala daerah mengambil langkah-langkah konkret untuk mengendalikan harga, menjaga pasokan, serta memastikan distribusi berjalan lancar,” ujar Tito.
Ia juga menekankan pentingnya penguatan koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Bank Indonesia dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), guna memastikan kebijakan yang diambil tepat sasaran.
“Kita tidak bisa bekerja sendiri-sendiri. Koordinasi adalah kunci agar langkah yang diambil efektif dan berdampak langsung pada masyarakat,” tambahnya.
Sejalan dengan arahan tersebut, Kapolda Riau, Irjen Pol Herry Heryawan, menyoroti pentingnya membangun sense of crisis di kalangan aparat, khususnya dalam menghadapi potensi dampak global terhadap stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Kita harus memiliki sense of crisis yang kuat. Setiap personel harus peka terhadap situasi dan mampu bertindak cepat dalam mengantisipasi potensi gangguan akibat dampak global,” tegas Herry.
Ia juga menekankan bahwa peran aparat kepolisian tidak hanya sebatas penegakan hukum, tetapi juga menjaga stabilitas sosial melalui pendekatan preventif.
“Kami akan terus bersinergi dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memastikan situasi tetap kondusif, termasuk dalam mengawal distribusi bahan pokok agar tidak terjadi kelangkaan atau penimbunan,” ujarnya.
Di tingkat daerah, Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menunjukkan komitmen nyata dalam mengantisipasi dampak kenaikan harga energi, khususnya bahan bakar minyak (BBM), yang berpotensi memengaruhi harga barang dan jasa.
“Kami memperkuat pengawasan di lapangan dan meningkatkan koordinasi dengan seluruh pihak terkait untuk memastikan tidak ada penyimpangan dalam distribusi BBM maupun kebutuhan pokok lainnya,” kata Agustiar.
Ia juga menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga dan melindungi masyarakat.
“Kami tidak ingin masyarakat terbebani. Oleh karena itu, langkah-langkah strategis terus kami lakukan, termasuk operasi pasar dan pengendalian distribusi,” tambahnya.
Di tengah perkembangan global terkini, seperti ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas dunia, pemerintah Indonesia dinilai berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional dengan tingkat inflasi yang relatif terkendali dibandingkan banyak negara lain. Hal ini tidak terlepas dari respons cepat pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan adaptif serta memperkuat koordinasi pusat dan daerah.
Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat, aparat keamanan, dan pemerintah daerah, optimisme terhadap ketahanan nasional di tengah tekanan global tetap terjaga, sekaligus menunjukkan bahwa langkah proaktif pemerintah mampu melindungi kepentingan masyarakat secara luas.*











