Oleh : Sigit Prasetyo
Pembasahan gambut menjadi salah satu langkah penting dalam upaya memutus siklus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus berulang di Indonesia. Upaya ini tidak hanya berkaitan dengan penanganan api ketika kebakaran telah terjadi, tetapi juga menyangkut pemulihan dan pemeliharaan ekosistem gambut agar tetap basah, sehat, serta mampu menjalankan fungsi alaminya. Pemerintah bersama akademisi, peneliti, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat semakin menempatkan pembasahan gambut sebagai bagian penting dari strategi pencegahan bencana. Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga menggelar diskusi bersama para akademisi dan pakar untuk membahas pengelolaan ekosistem gambut serta langkah pencegahan dan penanganan karhutla secara lebih menyeluruh.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menilai pengelolaan gambut perlu dilakukan dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu dan lembaga karena persoalan karhutla tidak dapat diselesaikan hanya melalui satu pendekatan. Menurutnya, masukan dari perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional menjadi bagian penting dalam merumuskan strategi yang lebih kuat berbasis ilmu pengetahuan. BMKG sendiri mendukung upaya tersebut melalui penyediaan informasi meteorologi dan penguatan langkah pencegahan, khususnya di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
Selain menyediakan informasi meteorologi, BMKG juga memperkuat pemantauan kondisi atmosfer, potensi hujan, dan ketersediaan air sebagai bagian dari langkah pencegahan karhutla di kawasan gambut. Teuku Faisal menjelaskan bahwa salah satu perhatian penting adalah menjaga tinggi muka air gambut agar tidak turun terlalu dalam. Hal ini karena gambut yang memiliki kelembapan cukup akan lebih sulit terbakar. Dalam kondisi tertentu, BMKG juga dapat mendukung upaya pembasahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca apabila terdapat kondisi awan yang memungkinkan, sehingga tambahan pasokan air dapat membantu menjaga kelembapan kawasan rawan kebakaran.
Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto juga menekankan bahwa pengelolaan gambut membutuhkan perhatian terhadap pemanfaatan lahan, sistem deteksi dan pemantauan dini, serta kemampuan melakukan penanganan ketika kebakaran terjadi. Ketiga aspek tersebut perlu menjadi satu rangkaian yang saling mendukung. Dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi kawasan yang membutuhkan pembasahan, memantau perubahan tinggi muka air, serta menentukan metode pemulihan tata air yang sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah.
Persoalan utama pada lahan gambut adalah perubahan kondisi alam akibat terganggunya sistem tata air. Secara alami, gambut mampu menyimpan air dalam jumlah besar. Namun, pembangunan kanal dan aktivitas pengeringan lahan dapat menyebabkan air mengalir keluar sehingga kelembapan tanah menurun. Ketika gambut mengering, api dapat dengan mudah menyebar dan bahkan membara di bawah permukaan tanah sehingga lebih sulit dideteksi maupun dipadamkan. Kondisi inilah yang membuat pembasahan menjadi langkah pencegahan yang sangat penting. Melalui pemulihan tata air, penjagaan tinggi muka air, dan pembangunan sekat kanal, kelembapan gambut dapat dipertahankan sehingga risiko kebakaran dapat ditekan.
Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq menilai kejadian karhutla yang terus berulang, terutama di kawasan gambut, tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan rutin yang hanya ditangani ketika musim kemarau tiba. Ia mendorong penggunaan pendekatan berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat ketahanan lanskap gambut sejak awal. Salah satu langkah yang ditekankan adalah menjaga tinggi muka air melalui pembangunan dan pengelolaan sekat kanal sesuai kondisi wilayah. Infrastruktur tersebut berperan menahan aliran air agar tidak cepat keluar dari kawasan gambut sehingga kelembapan tanah dapat terjaga, terutama ketika memasuki musim kemarau.
Peran masyarakat juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan pembasahan dan pencegahan karhutla. Di tingkat desa, masyarakat dapat terlibat dalam pemantauan kondisi lahan, menjaga infrastruktur pembasahan, mengenali perubahan lingkungan, serta melaporkan potensi titik api sebelum kebakaran berkembang lebih luas. Program seperti Masyarakat Peduli Api dan penguatan kesiapsiagaan desa dapat membantu membangun sistem pencegahan yang lebih dekat dengan lokasi rawan kebakaran. Pemerintah juga perlu mendorong penyediaan sumber air, pengelolaan embung, serta pengembangan kegiatan ekonomi yang sesuai dengan karakteristik gambut agar masyarakat tidak terdorong mengeringkan atau membakar lahan untuk membuka area baru.
Komitmen tersebut juga diperkuat melalui langkah pemerintah dalam mematangkan pembentukan Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menjelaskan bahwa arah pengelolaan gambut ke depan tidak hanya berfokus pada perlindungan ekosistem, tetapi juga pemulihan kawasan yang telah mengalami kerusakan serta pengembangan nilai ekonomi yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat tanpa merusak lingkungan. Dalam konteks pencegahan karhutla, pemulihan ekosistem tersebut perlu didukung dengan pembasahan gambut secara berkelanjutan agar fungsi hidrologisnya dapat kembali berjalan dengan baik.
Pembasahan gambut menjadi langkah penting untuk mengubah pola penanganan karhutla dari pendekatan yang bersifat reaktif menjadi pencegahan yang lebih berkelanjutan. Api yang sudah membesar memang harus segera dipadamkan, tetapi pekerjaan yang lebih mendasar adalah memastikan kondisi yang memicu munculnya api dapat dikurangi sejak awal. Kolaborasi pemerintah, akademisi, peneliti, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjaga gambut tetap basah serta mencegah kerusakan ekosistem secara berkelanjutan.
*Penulis merupakan Pengamat ekonomi kerakyatan














