Ketahanan Ekonomi Nasional Kunci Menghadapi Ketidakpastian Global

oleh -4 Dilihat
banner 468x60

Jakarta – Ketahanan ekonomi Indonesia dinilai masih mampu bertahan di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan dinamika geopolitik dunia. Kondisi tersebut terlihat dari pertumbuhan ekonomi semester I 2026 yang mencapai 5,45 persen, inflasi yang berada pada level 3,19 persen, serta kembali meningkatnya aliran modal asing ke pasar keuangan domestik. Stabilitas tersebut menjadi landasan penting bagi pemerintah untuk mempertahankan pertumbuhan sekaligus memperkuat fundamental ekonomi nasional.

Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa perekonomian Indonesia masih berada dalam kondisi yang cukup baik meskipun menghadapi berbagai tekanan dari lingkungan global. Ia menjelaskan, sejumlah indikator ekonomi makro menunjukkan perkembangan yang relatif terkendali.

banner 336x280

“Kondisi perekonomian Indonesia masih cukup kuat dan memiliki daya tahan. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,45 persen, sementara perkembangan inflasi juga tetap terkendali di angka 3,19 persen. Selanjutnya, pemerintah masih menunggu capaian pertumbuhan pada kuartal III,” ujar Suahasil Nazara.

Ketahanan ekonomi juga tercermin dari meningkatnya kembali aliran modal asing. Akumulasi investasi yang masuk ke pasar keuangan Indonesia mencapai Rp141,6 triliun. Pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN), tercatat arus modal asing secara neto sebesar Rp40,8 triliun. Sementara itu, aliran dana pada Sekuritas Rupiah Bank Indonesia mencapai Rp171,6 triliun sejalan dengan penyesuaian penerbitan instrumen tersebut.

Suahasil mengatakan perkembangan tersebut menjadi pijakan pemerintah untuk melanjutkan pengelolaan perekonomian secara berkelanjutan. “Perkembangan berbagai indikator ekonomi tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk terus menjaga dan mengelola perekonomian nasional ke depan,” katanya.

Dari sisi fiskal, realisasi APBN hingga akhir Agustus 2026 juga masih terjaga. Pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun atau sekitar 65 persen dari target, sedangkan belanja negara mencapai Rp2.295 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran tercatat Rp240,1 triliun atau setara 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Pendapatan negara telah mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65 persen dari target, sementara belanja sebesar Rp2.295 triliun sehingga defisit APBN berada di angka Rp240,1 triliun atau 0,93 persen dari PDB,” kata Suahasil.

Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menambahkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen. “Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan berada pada rentang 4,9 sampai 5,7 persen,” ujar Destry.

Bank Indonesia juga terus memperkuat kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran bersama pemerintah untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.