Jakarta – Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) subsidi 3 kilogram tetap stabil di tengah dinamika geopolitik global yang masih berlangsung.
Kepastian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa negara hadir menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, pemerintah tidak memiliki rencana untuk menaikkan harga BBM subsidi, termasuk Pertalite dan solar subsidi, maupun LPG 3 kilogram.
Menurutnya, keputusan itu diambil setelah pemerintah mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk dampak konflik di Timur Tengah terhadap rantai pasok dan harga energi global.
“Kami dapat memastikan bahwa untuk harga BBM subsidi tidak ada kenaikan, sesuai dengan apa yang sudah diputuskan seperti sekarang. Jadi tidak ada kenaikan untuk BBM subsidi termasuk dalamnya adalah LPG subsidi,” ujar Bahlil.
Selain menjaga stabilitas harga, pemerintah juga memastikan ketersediaan pasokan energi nasional berada dalam kondisi aman.
Bahlil menyampaikan, cadangan BBM, minyak mentah, dan LPG nasional saat ini masih berada di atas ambang batas minimum yang ditetapkan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi gangguan distribusi.
“Kami menyampaikan bahwa untuk stok BBM kita dan crude Insya Allah di atas standar minimum nasional termasuk kondisi LPG,” ungkapnya.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pemerintah akan terus menjaga keberlanjutan subsidi energi melalui tata kelola yang lebih akuntabel dan tepat sasaran.
Menurutnya, fokus pemerintah saat ini bukan menaikkan harga, melainkan memastikan subsidi benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak sehingga volume penggunaannya tetap terkendali.
“Tidak. Yang kita pastikan subsidinya tepat sasaran, sehingga bisa terkendali volumenya,” kata Purbaya.
Kebijakan mempertahankan harga BBM dan LPG subsidi menunjukkan konsistensi pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampak gejolak ekonomi global.
Di saat sejumlah negara menghadapi tekanan akibat kenaikan biaya energi, Indonesia justru mampu menjaga stabilitas melalui kombinasi penguatan cadangan energi, pengendalian subsidi, dan langkah antisipatif yang telah disiapkan sejak awal.
Dengan pasokan yang terjamin dan harga yang tetap terkendali, pemerintah berharap aktivitas ekonomi masyarakat dapat terus berjalan optimal.
Kepastian ini sekaligus mempertegas bahwa ketahanan energi nasional tidak hanya menjadi agenda jangka pendek, tetapi merupakan fondasi penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat di tengah ketidakpastian global.













