Dari Nikel hingga Bauksit, Hilirisasi Indonesia Masuki Babak Baru

oleh -10 Dilihat
oleh
banner 468x60

Jakarta – Investasi hilirisasi mineral Indonesia memasuki babak baru pada kuartal II-2026. Untuk pertama kalinya, investasi hilirisasi bauksit menjadi yang terbesar dan berhasil melampaui nikel yang selama ini mendominasi sektor pengolahan mineral.

Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp40,1 triliun pada kuartal II-2026 atau melonjak 193 persen dibandingkan kuartal I-2026 yang sebesar Rp13,7 triliun.

banner 336x280

Di bawah bauksit, investasi hilirisasi nikel tercatat Rp29,4 triliun, diikuti tembaga Rp16,7 triliun, besi baja Rp13,2 triliun, pasir silika Rp4 triliun, serta komoditas lain seperti timah, emas, perak, kobalt, mangan, batu bara, aspal Buton, dan logam tanah jarang sebesar Rp4,7 triliun.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, mengatakan total investasi hilirisasi pada kuartal II-2026 mencapai Rp152,7 triliun atau naik 5,7 persen.

Nilai tersebut berkontribusi hampir 30 persen terhadap total realisasi investasi nasional pada periode yang sama.

Menurut Rosan, dominasi bauksit mencerminkan percepatan pembangunan proyek pengolahan yang dikerjakan investor dalam maupun luar negeri.

“Bauksit ini nomor 1, biasanya kita tahu selalu nikel. Nah, ini ada shifting bauksit karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh dalam negeri maupun luar negeri,” jelas Rosan.

Rosan menjelaskan nikel masih menjadi contoh ekosistem hilirisasi paling lengkap karena telah mencakup seluruh rantai nilai, mulai dari bijih nikel hingga baterai kendaraan listrik dan daur ulang baterai.

Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi), Sudirman Widhy Hartono, menilai lonjakan investasi bauksit merupakan perkembangan yang wajar seiring dimulainya siklus investasi baru.

“Nilai investasi hilirisasi pada komoditas bauksit yang menyalip komoditas nikel, menurut kami wajar saja,” katanya.

Meski demikian, Sudirman mengingatkan pemerintah agar mengendalikan laju investasi, terutama apabila didominasi investor asing, sehingga tidak menimbulkan kelebihan kapasitas seperti yang pernah terjadi pada industri nikel.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Bauksit Indonesia (ABI), Ronald Sulistyanto, menilai meningkatnya investasi turut didorong pesatnya perkembangan industri kendaraan listrik global.

Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan karena menguasai empat bahan baku utama ekosistem baterai, yakni bauksit, nikel, mangan, dan tembaga.

“Jika bauksit dijual mentah, harganya sangat rendah. Namun, setelah diolah secara tuntas nilai tambahnya bisa melonjak 10 hingga 15 kali lipat,” ujar Ronald.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.