Oleh: Antonius Utomo
Bencana alam menjadi tantangan yang tidak dapat sepenuhnya dihindari oleh Indonesia sebagai negara yang memiliki kondisi geografis dan iklim yang beragam. Banjir, kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, hingga erupsi gunung api dapat mengganggu aktivitas masyarakat serta memberikan tekanan terhadap kegiatan ekonomi di wilayah terdampak. Namun, berbagai perkembangan terbaru menunjukkan bahwa gangguan tersebut masih dapat dikelola dan tidak serta-merta menggoyahkan ketahanan perekonomian nasional. Respons pemerintah yang cepat, dukungan lintas sektor, serta kebijakan untuk menjaga daya beli dan pasokan kebutuhan pokok menjadi faktor penting dalam mempertahankan stabilitas ekonomi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sebanyak 1.730 kejadian bencana terjadi di berbagai wilayah Indonesia sejak awal tahun hingga 7 September 2026. Karhutla dan banjir menjadi jenis bencana yang cukup dominan. Besarnya jumlah kejadian tersebut menunjukkan bahwa risiko kebencanaan memang nyata dan membutuhkan kesiapsiagaan berkelanjutan. Meski demikian, tingginya frekuensi bencana tidak otomatis berarti perekonomian nasional mengalami tekanan yang sama besar. Penanganan yang cepat dan terkoordinasi menjadi modal penting agar dampak bencana tidak berkembang menjadi gangguan ekonomi yang lebih luas.
Salah satu tantangan yang mendapat perhatian adalah meningkatnya kebakaran hutan dan lahan akibat kondisi kemarau. Kebakaran dapat mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, transportasi, serta kegiatan produksi di sejumlah wilayah. Namun, pemerintah terus meningkatkan operasi penanganan melalui pemadaman darat, pengerahan pesawat untuk water bombing, serta modifikasi cuaca. Dukungan dari negara lain juga memperkuat upaya tersebut. Jepang, misalnya, turut membantu penanganan kebakaran di Kalimantan Barat dengan mengirimkan tiga helikopter Chinook beserta personel. Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana terus diperkuat melalui kerja sama nasional dan internasional sehingga risiko terhadap masyarakat maupun aktivitas ekonomi dapat ditekan.
Tekanan lain muncul dari aktivitas vulkanik yang dapat mengganggu mobilitas masyarakat. Erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya, sempat berdampak terhadap aktivitas penerbangan akibat abu vulkanik. Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana bencana dapat memberikan gangguan langsung terhadap sektor transportasi dan kegiatan ekonomi. Kendati demikian, pemerintah segera melakukan langkah mitigasi melalui pemantauan kondisi udara, pengaturan aktivitas masyarakat, penyampaian informasi kepada publik, serta koordinasi antarlembaga. Respons cepat semacam ini penting untuk memastikan gangguan tidak berlangsung lebih lama dan aktivitas masyarakat dapat kembali normal setelah kondisi memungkinkan.
Dari sisi ekonomi, pemerintah tetap optimistis bahwa dampak bencana tidak akan secara signifikan mengganggu pertumbuhan nasional. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa bencana memang dapat memberikan sedikit gangguan terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak sampai memperlambat perekonomian secara signifikan. Pemerintah juga menyiapkan dukungan anggaran untuk penanganan bencana sehingga proses tanggap darurat dan pemulihan dapat dilakukan secara cepat tanpa mengganggu keberlanjutan program pembangunan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto juga mengakui bahwa bencana alam dapat memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi, khususnya di wilayah yang terdampak langsung. Namun, pemerintah terus memantau dampak tersebut sekaligus memastikan berbagai program tetap berjalan. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak mengabaikan dampak ekonomi di daerah terdampak, tetapi berupaya mengelolanya agar tidak berkembang menjadi persoalan nasional. Kesiapan menghadapi potensi El NiƱo juga terus diperkuat sebagai bagian dari langkah antisipasi terhadap risiko cuaca yang dapat memengaruhi produksi pangan dan aktivitas ekonomi.
Ketahanan ekonomi juga diperkuat melalui upaya menjaga stabilitas pangan. Pemerintah memperpanjang program bantuan beras hingga Desember 2026 dengan tambahan pasokan hampir satu juta ton untuk membantu lebih dari 33 juta keluarga berpendapatan rendah. Kebijakan tersebut penting karena ketersediaan pangan memiliki hubungan langsung dengan daya beli masyarakat. Ketika pasokan dan harga pangan dapat dijaga, masyarakat memiliki ruang yang lebih besar untuk mempertahankan konsumsi, sementara dunia usaha tetap memperoleh dukungan dari aktivitas ekonomi yang berjalan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan ekonomi bukan berarti perekonomian terbebas dari guncangan, melainkan memiliki kemampuan untuk menghadapi, menyerap, dan pulih dari tekanan. Ketika bencana terjadi, pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan korban dan kerusakan, tetapi juga memastikan distribusi kebutuhan pokok, aktivitas ekonomi, serta daya beli masyarakat tetap terjaga. Kebijakan tersebut menjadi penting agar dampak bencana tidak menimbulkan efek berantai yang lebih luas.
Dengan koordinasi yang semakin kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, dunia usaha, masyarakat, dan mitra internasional, dampak bencana dapat dikelola secara lebih efektif. Pengalaman menghadapi berbagai bencana juga menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi, meningkatkan kesiapsiagaan, memperbaiki sistem peringatan dini, serta membangun infrastruktur yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
Pada akhirnya, bencana alam memang dapat mengganggu aktivitas ekonomi dalam jangka pendek, tetapi bukan berarti menjadi hambatan permanen bagi pertumbuhan nasional. Berbagai langkah respons dan mitigasi yang terus diperkuat menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menghadapi tekanan tersebut. Dengan menjaga stabilitas pangan, daya beli, distribusi, serta keberlanjutan kegiatan usaha, daya tahan ekonomi nasional tetap terjaga. Tantangan kebencanaan justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat fondasi pembangunan dan memastikan perekonomian Indonesia semakin tangguh, adaptif, serta mampu mempertahankan momentum pertumbuhan secara berkelanjutan.
)* Pengamat Kebijakan Publik











