JAKARTA — Momentum September Hitam menjadi ruang refleksi untuk mengingat berbagai peristiwa kekerasan, persoalan hak asasi manusia (HAM), serta tragedi kemanusiaan dalam sejarah Indonesia. Di tengah meningkatnya pembahasan isu tersebut di ruang publik dan media sosial, kelompok aktivis mengajak masyarakat menyikapinya secara kritis, bijaksana, aman, dan damai.
September Hitam digunakan berbagai kelompok masyarakat sipil, aktivis, dan mahasiswa untuk membangun ingatan kolektif terhadap sejumlah peristiwa pada September. Momentum ini juga menjadi sarana meningkatkan kesadaran, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menghargai sejarah dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa masa lalu.
Ajakan menjaga suasana damai disampaikan kelompok Aktivis Tangerang Raya yang tergabung dalam ANTFA melalui diskusi bersama sejumlah aktivis di Jakarta pada 16 September 2026. ANTFA menekankan pentingnya menjaga suasana aman, damai, tertib, dan saling menghormati.
Ketua ANTFA menjelaskan bahwa September Hitam berkaitan dengan ingatan terhadap berbagai peristiwa kekerasan dan persoalan HAM.
“September Hitam memiliki makna yang berkaitan dengan ingatan terhadap sejumlah peristiwa kekerasan dan persoalan hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, penyikapan terhadap momentum tersebut perlu dilakukan secara bijaksana,” ujarnya.
Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat dan demokrasi.
“Penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, namun harus dilaksanakan dengan tetap memperhatikan ketertiban umum, menghormati hak orang lain, serta menghindari tindakan yang dapat menimbulkan konflik maupun keresahan,” lanjut Ketua ANTFA.
Sejalan dengan itu, aktivis pemuda dan mahasiswa mengajak generasi muda menyikapi bijak informasi terkait September Hitam 2026. Sikap kritis dan kemampuan memverifikasi informasi penting agar mahasiswa tidak mudah terprovokasi konten yang belum terjamin kebenarannya.
Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Mizar Hilman, mengatakan perkembangan teknologi memudahkan generasi muda mengakses informasi mengenai berbagai kasus HAM melalui media sosial. “Belum tentu bahwa mereka itu memahami secara betul atau bahkan mereka hanya mengikuti tren saja,” kata Mizar.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak sekadar membagikan atau mengunggah konten mengenai HAM. Kepedulian terhadap HAM perlu diwujudkan dengan mempelajari persoalan secara mendalam serta menghormati hak orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
ANTFA juga mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi informasi yang dapat mendorong tindakan anarkis.
“Diskusi ini juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh oknum yang menginginkan terjadinya kerusuhan, keributan, dan tindakan anarkisme,” tutup Ketua ANTFA. (*)










