Oleh: Ezan Mahendra )*
Stabilitas harga pangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan ketahanan ekonomi nasional. Di tengah berbagai tantangan yang memengaruhi sektor pangan, pemerintah terus memperkuat berbagai instrumen stabilisasi agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali dan pasokan tersedia secara merata di seluruh wilayah.
Salah satu langkah yang menunjukkan hasil positif adalah penguatan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta percepatan penyaluran Bantuan Pangan Beras yang dilaksanakan secara masif sepanjang tahun 2026.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan pangan. Dengan dukungan stok beras nasional yang kuat, distribusi yang semakin luas, serta koordinasi lintas lembaga yang berjalan efektif, pemerintah mampu mengantisipasi potensi gejolak harga yang dapat membebani masyarakat.
Perum Bulog memegang peran sentral dalam pelaksanaan program tersebut. Melalui pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah yang berada pada level sangat kuat, Bulog mampu menjalankan berbagai intervensi pasar secara optimal.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa hingga awal Juni 2026 stok beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah tersebut dinilai sangat memadai untuk mendukung kebutuhan bantuan pangan, penyaluran SPHP, serta berbagai kebijakan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga beras nasional.
Ketersediaan stok yang besar memberikan fleksibilitas bagi pemerintah untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi ketika terjadi tekanan harga di pasar. Kondisi tersebut sekaligus menjadi indikator bahwa sistem cadangan pangan nasional semakin kuat dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara berkelanjutan.
Di samping penguatan stok, pemerintah juga mempercepat penyaluran Bantuan Pangan Beras kepada masyarakat. Hingga 6 Juni 2026, realisasi penyaluran telah mencapai hampir 20 juta Penerima Bantuan Pangan atau sekitar 60 persen dari target nasional sebanyak 33,2 juta penerima. Pemerintah menargetkan seluruh bantuan dapat tersalurkan sebelum akhir Juni sehingga manfaatnya dapat segera dirasakan oleh masyarakat.
Percepatan penyaluran bantuan pangan memiliki dampak yang signifikan terhadap penguatan daya beli masyarakat. Ketika kebutuhan pokok kelompok penerima bantuan dapat dipenuhi melalui program pemerintah, tekanan konsumsi di pasar menjadi lebih terkendali. Situasi tersebut membantu meredam kenaikan harga sekaligus menjaga akses masyarakat terhadap pangan yang terjangkau.
Program bantuan pangan juga berfungsi sebagai instrumen perlindungan sosial yang efektif. Selain membantu kelompok rentan memenuhi kebutuhan sehari-hari, program ini turut mendukung stabilitas pasar karena distribusi kebutuhan pokok berlangsung lebih merata.
Penguatan stabilitas harga juga dilakukan melalui optimalisasi penyaluran beras SPHP. Hingga awal Juni 2026, Bulog telah menyalurkan sekitar 315 ribu ton beras SPHP ke berbagai daerah melalui pasar tradisional, kios pangan, Gerakan Pangan Murah, serta jaringan pengecer yang bekerja sama dengan pemerintah daerah.
Upaya pengendalian harga juga dilakukan secara intensif di tingkat daerah. Bulog Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten, misalnya, terus memperkuat distribusi beras SPHP, beras premium, bantuan pangan, serta MinyaKita untuk mengantisipasi potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan.
Pemimpin Bulog Kanwil DKI Jakarta dan Banten, Taufan Akib, menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga kecukupan pasokan sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa kebutuhan pangan pokok tetap tersedia. Menurutnya, perluasan distribusi dilakukan melalui berbagai saluran resmi yang tersebar di wilayah DKI Jakarta dan Banten.
Jaringan distribusi tersebut melibatkan koperasi, Rumah Pangan Kita, outlet binaan instansi pemerintah, pedagang pasar, hingga ritel modern. Saat ini terdapat ratusan titik distribusi aktif yang menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga keterjangkauan harga pangan melalui mekanisme pasar yang terkontrol.
Penguatan distribusi juga diperkuat melalui pelaksanaan Gerakan Pasar Murah yang secara rutin digelar di berbagai daerah. Program ini memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk memperoleh bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga pasar umum.
Langkah serupa juga dijalankan oleh Bulog Kantor Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Percepatan distribusi beras SPHP dan MinyaKita dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan harga pangan tetap stabil serta pasokan tersedia dalam jumlah yang cukup.
Pemimpin Bulog Kanwil DIY, Dedi Aprilyadi, menjelaskan bahwa distribusi dilakukan melalui pasar tradisional, Gerakan Pangan Murah, kios pangan, dan jaringan pengecer yang bekerja sama dengan pemerintah daerah. Sementara distribusi MinyaKita diperluas melalui pasar rakyat dan jaringan Rumah Pangan Kita yang tersebar di berbagai wilayah.
Selain memperkuat distribusi, Bulog DIY juga melakukan pemantauan langsung ke pasar-pasar rakyat guna memastikan efektivitas program stabilisasi. Hasil pemantauan menunjukkan harga beras medium masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi yang ditetapkan pemerintah. Ketersediaan MinyaKita juga terpantau aman dengan harga yang masih sesuai ketentuan.
Dedi Aprilyadi menyampaikan bahwa stok beras yang dikelola Bulog DIY mencapai sekitar 244 ribu ton dan berada dalam kondisi aman untuk mendukung berbagai program pemerintah. Ia juga menjelaskan bahwa realisasi penyaluran bantuan pangan di wilayah tersebut telah mencapai 83 persen dari target yang ditetapkan dan terus dipercepat agar seluruh penerima dapat memperoleh manfaat tepat waktu.
Kondisi harga pangan yang relatif terkendali saat ini menunjukkan bahwa strategi pemerintah berjalan pada jalur yang tepat. Penguatan SPHP dan Bantuan Pangan tidak hanya mampu menjaga keterjangkauan harga beras dan kebutuhan pokok lainnya, tetapi juga membantu menjaga daya beli masyarakat serta mendukung pengendalian inflasi.
*) Pemerhati Kebijakan Publik dan Pangan













